Rabu, 21 Oktober 2009

UnTitLed

Ternyata sudah pagi..
Cukup lama sebuah kebiasaan buruk ini berjalan,
Melihat dunia dalam malam,
Disebuah ruang yang sama,tempat yang sama,
Rentang waktu yang sama pula..

Detak jam dinding sangat keras,
Ketika Malam sudah sangat sunyi..
Detak itu tak berhenti2 dari angka ke angka..
Ketika aku merenung,
Ketika aku terlena,
Ketika aku hanya dian sekalipun,
Waktu takan berhenti sejenak saja..

Malam-Mu kini seakan terasa singkat,
Pagi-Mu juga seakan terasa sekejap,
Dan Siang-Mu seakan hanya lewat..

Ya Allah..
Ijinkan aku mengukir setiap sejarah dalam perjalananku,
Ijinkan aku membuat cerita di setiap detik hariku,
Ijinkan aku melihat setiap waktu ini menjadi rasa syukurku,
Menjadikan waktu hanya berserah kepadaMu.
Menjadikan setiap langkah hanya berharap ridlo-Mu.


Kamis, 22 Oktober 2009 ; 00 : 22

TeNtanG DiA

Kemaren masih begitu lekat dihati,
Saat pagi menyapa kudengar sapaanmu,
Saat menjelang siang kubaca pesan2mu,
Saat siang tiba kau juga selalu mengingatkanku
Ketika petang kau selalu menanyakan kabarku,
Dan Ketika malam menutup hari
Kau selalu bilang semoga bahagia selalu bersamamu

Aku belum terbiasa semua itu tak ada lagi,
Rasanya seperti mimpi melihatmu pergi,
Rasanya separuh nyawa ini pergi ketika kutahu kau tak disini lagi,
Rasanya tak pernah percaya bahwa hanya kenangan yang ada..
Semua kenangan yang tak pernah bisa kulupa.

Malam ini kuingat lagi tentangmu,
Engkau yang selalu ingin melihatku tersenyum,
Engkau yang selalu sedih ketika melihatku menangis,
Engkau yang selalu ingin melihatku bahagia,

Bahkan ketika kau pergi,
Tiada henti harapan dan doamu untukku..
YA Allah..
Aku selalu sedih mendengarnya,
seakan suara itu masih begitu jelas dalam pendengaranku..
Seakan dia tak pernah beranjak sejengkalpun,
Seakan telah ditinggalkan hatinya disini.
Ditempat ini,
.......................................

Bersambung ke...:D

Selasa, 18 Agustus 2009

Renungan Indah - By WS.Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan

Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya :
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua
“derita” adalah hukum bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”